Sejarah – IKPM Gontor Aceh
Tuesday , June 25 2019
Home / Sejarah

Sejarah

Pada tahun 1949, kongres Muslimin Indonesia diadakan di Yogyakarta. KH. Imam Zarkasy turut hadir pada kesempatan itu. Beliau berangkat dengan menggunakan kereta uap, melewati Surabaya demi keamanan. Beliau berangkat ditemani Mukari.

Beliau bertemu dengan 6 orang peserta lain dari Kalimantan, yang dipimpin oleh H. Idham Cholid, alumni Gontor. Ketika Kongres Muslimin dilaksanakan, banyak alumni Gontor yang menjadi wakil daerah dan organisasi. Pada pertemuan itu, terjadi jalinan keluarga yang sangat erat dan rasa tunggal guru yang kuat, apalagi banyak diantara alumni Pondok Modern yang sudah beberapa lama saling tidak bertemu.

Melihat betapa eratnya pak Zar dengan beberapa alumni itu, Mukari, yang menyertai beliau, merasa heran betapa eratnya hubungan antara guru dan muridnya tatkala bertemu. Melihat kenyataan itu, ia berkata: “begini pak, saya yakin cita-cita bapak akan tercapai, Pondok Modern akan abadi. Masa depannya cerah.”

Kata-kata yang dilontarkan Mukari di atas merupakan cita-cita Pak Zar untuk membina ukhuwah Islamiyah. Cita-cita untuk membuat suatu organisasi kekeluargaan bagi alumni Pondok Modern yang tercetus sejak Tarbiyatul Athfal kelihatan berjalan dengan lancar dan pengaruhnya yang semakin luas di kalangan masyarakat.

Setelah Kongres Muslimin Indonesia I itu selesai, para aluni yang hadir ketika itu sepakat untuk mengadakan pertemuan, membicarakan terbentuknya organisasi kekeluagaan bagi segenap alumni. Akhirnya pertemuan yang berlangsung di rumah salah seorang alumni Gontor bernama pak Dukhan di Ngasem, Yogyakarta, berhasil membentuk organisasi alumni yang disebut dengan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) pada tanggal 17 Desember 1949 yang diresmikan kemudian tahun 1951, dengan tujuan agar hubungan batin alumni dengan pondoknya tetap terpelihara.

Setelah terbentukyna IKPM, disusunlah AD/ART yang kemudian disahkan pada Kongres I atau Mubes I IKPM di Pondok Modern Gontor, pada 31 oktober 1951 yang bertepatan dengan Peringatan Seperempat Abad berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor, yang berlangsung pada tanggal 27 Oktober sampai dengan 4 November 1951.

Pada peringatan tersebut, IKPM mendapat amanat yang sangat berat, karena pada saat itu, pendiri Pondok Modern, KH. Ahmad Sahal dalam pidato sambutannya mengungkapkan bahwa Pondok Modern sejak saat itu bukan lagi milik para pendiri, tetapi diwakafkan kepada umat Islam dan pertanggungjawaban maju mundurnya diserahkan kepada para alumninya.

 

Sebagai realisasi ungkapan pendiri Pondok Modern pada peringatan Seperempat Abad tentang penyerahan Pondok Modern dari milik keluarga menjadi milik umat Islam seluruhnya. Maka pada tanggal 12 Oktober 1985, Pondok Modern diwakafkan kepada umat Islam diserahkan kepada IKPM, diwakili okeh 15 orang alumni yang berbentuk suatu badan yang kemudian dikenal dengan nama “Badan Wakaf Pondok Modern”. Susunan Pengurus Badan Wakaf yang menerima amanat dan penandatanganan Piagam Penyerahan Wakaf adalah sebagai berikut:

Ketua umum : K.H. Idham Kholid (Jakarta)

Ketua I : Aly Murtadlo (Pacitan)

Ketua II : Shoiman BHM (Gontor)

Sekretaris I : Ghozali Anwar (Ponorogo)

Sekretaris II : Abdullah Mahmud (Madiun)

Bendahara : Al-Muhammady (Yogyakarta)

Bendahara II : Hadiyin Rifa’I (Jakarta)

Anggota : Letkol Hasan Basri, Kapten Irchamni, H. Mahfudz Thohir, Aly Saifullah, Abdullah Syukri.

Penyerahan wakaf itu diawali pula dengan pidato sambutan dari K.H. Ahmad Sahal yang diantara isinya: “Yang kecil ini (Pondok Modern) supaya dibesar-besarkan, sebesar-besarnya. Seterusnya supaya menuju Universitas Darussalam yang mementingkan ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa Arab serta pengetahuan umum.